Minggu, 22 Juli 2012
Fitnah ; Menurut Pandangan Al-Qur’an
Fitnah merupakan salah satu perbuatan yang jelas-jelas dibenci oleh Allah SWT. Orang yang mempunyai hobi memfitnah dia tidak akan nyaman hidupnya di dunia. Sebab di sedang dihantui dengan kebohongan yang besar, jika sudah terbongkar semua kebohongannya maka dia harus menerima imbalannya yakni kepercayaan orang-orang terhadap dirinya telah hilang. Mereka yang suka memfitnah orang ataupun menuduh orang dengan sebuah tuduhan yang salah, maka mereka akan mendapatkan ganjarannya langsung dari Allah SWT. di dunia dan akhirat.
APA YANG HARUS KITA LAKUKAN UNTUK MENGHADAPI ORANG-ORANG YANG HOBINYA MENFITNAH DAN MENUDUH ORANG ?
Zaman sekarang tidak sedikit dari banyak orang yang hobinya membicarakan orang lain. Baik itu dalam sisi positifnya apalagi sisi negatifnya. Bahkan kita pribadi yang awalnya tidak berniat untuk ikut turut andil dalam mendengarkan berita bohong itupun akhirnya terbawa arus untuk mendengarkannya karena penasaran terhadap berita yang disampaikan dan alhasil kita pun menjadi pendengar setia pembawa berita bohong itu. Kini berita-berita yang belum jelas keabsahannya banyak beredar, seperti gosip-gosip di televisi.
Maka untuk menghindarinya berikut adalah cara-caranya sesuai dengan perintah Allah dalam surah An-Nur ayat 12 dan 16 :
Jika yang memfitnah itu adalah orang yang awwam
Apabila ada teman kita ataupun orang-orang di sekitar kita yang menyampaikan berita bohong , atau orang yang menyampaikan berita itu pun belum yakin akan kebenaran berita yang dia sendiri edarkan kan. Maka kita langsung saja keluarkan dua kartu mati yakni berbicara kepadanya dengan kalimat :
1. Dzhonnal Mu’minuuna wal Mu’minaatu bi Anfusihim
2. Hadza Ifkum Mubiin
Setelah kita berkata kalimat itu maka hendaklah kita menajuhi orang yang menyampaikan berita itu.
Jika yang memfitnah itu adalah orang yang berilmu
Apabila yang menyebarluaskan berita bohong itu adalah orang-orang yang berilmu maka langsung saja keluarkan tiga kartu mati. Artinya jika ada orang yang berilmu ( berpendidikan ) ketika menyampaikan berita dia selalu berkata “ kata si A seperti ini, kata si B seperti ini, dan kata si C seperti itu” belum jelas kebenarannya.
Maka cukup saja katakan :
1. Subhanallah
2. Ma Yanbagi Lana anNatakallama bihadza
3. Hadza Buhtaanun ‘Adzhim
Tapi setelah berkata itu pun kita juga harus segera meninggalkan orang yang mengedarkan berita bohong itu. Jangan mentang-mentang sudah mengatakan kalimat kata kunci atau mati itu kita malah asyik mendengarkan berita bohong itu.
BAGAIMANA NASIB ORANG YANG DIFITNAH ?
Biasanya orang yang difitnah tidak menerima perlakuan atas pencemaran nama baiknya. Oleh karna itu tidak sedikit dari banyak orang yang difitnah membalas perlakuan itu dengan sebuah balas dendam yang lebih kejam. Entah apa saja yang mereka lakuakan yang terpenting mereka dapat membalas perlakuan orang yang memfitnahnya.
Akan tetapi dalam surah An-Nur Allah SWT. Telah menjanjikan kepada hambanya yang sabar dan tidak membalas perlakuan orang yang memfitnahnya. Isi janji Allah SWT tersebut adalah sebagai berikut :
1. Ya’jurukumullah yakni mendapatkan balasan ( pahala ) dari Allah SWT.
2. yazaharul Barooah yakni mendapatkan kesucian dari Allah SWT. Atas segala kekotoran yang ada di dalam dirinya.
Oleh karna itu untuk para korban fitnah maka janganlah takut sebab Allah itu selalu berada di sisi hamba-Nya yang benar. Adapun larangan bagi orang yang di fitnah adalah :
1. Apabila di fitnah janganlah membalasnya dengan fitnah juga.
2. Berita bohong atau gossip dari orang-orang awwam janganlah didengarkan.
3. Dan jika yang menyampaikannya orang alim pun tetap janganlah dihiraukan.
LALU APA BALASAN UNTUK ORANG YANG MEMFITNAH ?
Orang-orang yang memfitnah tidak seenaknya saja mereka menyebarkan berita-berita bohong. Akan tetapi mereka pun akan mendapatkan ganjaran atas perlakuannya. Ganjaran yang akan mereka dapatkan adalah :
1. Tidak akan dipercaya lagi semua persaksiannya
2. Tidak bisa jadi saksi atas semua persaksiannya
3. termasuk orang-orang yang fasiq
Akan tetapi jika dia bertaubat dan memperbagus perbuatannya maka Allah SWT. Akan memaafkannya. Namun pada masalah taubat ini ada beberapa perbedaan pendapat.
1. Pendapat pertama yakni menurut imam hanafi bahwa :
* Allah menghapus kefasikannya dan
* Boleh menjadi saksi kembali
2. Akan tetapi menurut pendapat kedua yakni Imam Syafi’I bahwa yang hapus hanya kefasikannya saja akan tetapi setelah itu tidak dapat menjadi saksi kembali.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar